Senyum Ibu Di Oriflame Business Conference

Selamat pagi dari Singapore teman-teman! 

andri-yulia.jpg

Kemaren di business conference, video openingnya diputarkan sebuah video. Tema Diamond Conference kali ini, dan sejak Gold Cruise 5 bulan lalu adalah “DREAM EXPRESS”, yang artinya manajemen mengajak kita semua ikut serta dalam misi bekerja lebih cepat, supaya impian anda tercapai, juga dengan lebih cepat.

 

diamond-conference-yulia.jpg

Maki ajak Ibu. Walaupun acaranya conference dan bahasa Inggris tapi ada headset yang bisa dipakai yang ada penterjemahnya, jadi bisa ngerti nanti apa yang dibahas sepanjang acara. Ajak ibu juga supaya ibu tau dan tenang karena sekarang 2 putrinya sudah punya pilihan hidup mau berkarir di Oriflame, 2 putrinya akan berkarir di Oriflame sepanjang hidup inshaAllah, dimana dulu harapan orangtua nggak seperti itu :).

diamond-conference-yulia-2.jpg

Suasana ruang conferencenya gelap, dengan sound system yang kenceng banget. Trus ada narasi dari videonya “Join the dream express…”. Duduk jejer ibu dan mbak Ari. Papa lagi foto-foto dan ngerekam video di depan panggung.

Tiba-tiba kebayang setahun lalu, yang lagi ngejar open Executive Director. 

Kebayang masa kecil.

Waktu ngejar open Executive Director, punya kalimat ajaib yang gini bunyinya, 

“Maki, kamu udah puas ajak ibumu jalan-jalan keliling MargoCity aja? Udah puas begitu? Gak mau kamu ajak ibumu jalan-jalan ke Singapore dan liatin kamu di atas panggung? Nggak mau kamu Maki?” 

Ini mantra banget, yang akhirnya bener-bener bisa terkejar 12 kaki dan lancar kualifikasinya selama 6 bulan. 

Lancar yaaaa, hehehe, keliatannya. Semua orang dengan tantangannya masing-masing. Tantangannya pasti ada, hanya soal diperlihatkan atau tidak. Yang penting mah diselesaikan, bukan diperlihatkan. 

Trus tiba-tiba, gak bisa nahan nangis, lalu nangis di pundak ibu. 

Ibu bingung “loh kenapa? kenapa?” 

Duh nggak bisa ngomong.

Ngomong terbata-bata “Udah lama pengen ngajak ibuukk, ke acara Oriflame kayak gini, trus saiki iso… (trus sekarang bisa)”. Huhuhuhu… 

Begitu denger ibu nangis lebih kenceng lagi, Maki dirangkul dan bilang “iyaaaa, iyaaaa, ibuk yo seneng kok, ibuk seneng bangetttt, iki apikkk bangetttt, maturnuwun yo ndukkk, ibuk seneng bangetttttt…. wis ojo nangisss… ojo nangiiiis….” (iya ibu juga seneng kok, ibu seneng banget, ini bagus banget, makasih ya nduk, ibu seneng banget, udah jangan nangis, jangan nangis). 

Ibu keluarin tisu, buat ngelap air mata anaknya yang cengeng ini, mbak Ari juga ikut dirangkul bareng-bareng…

Inget waktu kecil dulu. Sekolah SD jalan kaki. Ibu jadi bidan desa. Kalo Maki sakit, ibu bolak balik pulang ke rumah ngecek suhunya udah turun apa belum. Dikasih obat, dimasakin yang enak-enak (tempe goreng, bubur). Dijagain sampai sembuh. Dimarahin karna udah tau kalau demam selalu sebabnya Maki diem-diem minum es padahal nggak boleh, tapi Maki bandel. 

Dari kecil diwajibkan sama ibu rajin belajar. Biar gedenya pinter, masa depannya bagus. Sekolah SMP harus naik bis karna 10km dari rumah. Les ke kota naik bis juga karena kami tinggalnya di desa yang jauh kemana-mana. Kalau sore dijemput kadang ibu kadang bapak naik motor, jauh naik motor dari rumah ke tempat les. Sekali lagi biar anaknya punya masa depan bagus. Biar jadi pegawai kantoran nanti, karena kami taunya itu. 

Sekolah STM keluar kota. Mulai butuh banyak biaya. Dianterin testnya, dianterin keliling nyari kos2an, rela jauh dari anaknya yang cuma bisa seminggu sekali pulang. Gajinya bapak ibu nggak seberapa, dikirim buat anaknya yang ngekos di luar kota, menuntut ilmu. Sekali lagi biar anaknya punya masa depan bagus. 

Lulus STM, pindah ke Jakarta, kerja di perusahaan terkenal PT Indosat. Pagi kerja, malem kuliah. Kuliah semester 4, umur 20 tahun, Paki melamar ke rumah. Duh hati ibu mana yang nggak was-was anaknya menikah di umur 20 tahun. 

Waktu itu akad nikah di rumah, ibu di kursi roda. Karena udah 2 tahun sakit dan lumpuh. Abis akad nikah ibu nangis lama banget. 

Ibu sakit waktu itu, Maki nggak bisa bantu apa-apa karena nggak punya apa-apa juga. Nggak punya apa-apa itu nggak enak. 

Udah seneng orangtua, Maki kerja di Indosat, eh pindah kerja. Udah pindah kerja, karir disitu ternyata nggak bagus, Maki resign. 

Lengkap sudah, anak tercinta yang dibela-belain bagus pendidikannya, sampai les ke kota, sekolah keluar kota, ternyata memilih resign dan jadi ibu rumah tangga. 

Malahan jualan kue yang nggak jelas masa depannya. Segenap daya dan upaya, besarin bisnis kue, biar bapak dan ibu bangga, anaknya baik-baik aja tanpa jadi orang kantoran. Dan besarlah bisnis kue itu. 

Kue udah jadi bisnis besar, tiba-tiba Maki ngabarin, join Oriflame. 

Beberapa bulan kemudian cerita lagi, mau fokus di Oriflame, karena mau punya waktu buat anak-anak, mau hidup normal bisa tidur kalau malem, nggak begadang lagi. 

Ibu sempat ragu-ragu. Tiap ibu ke Depok, Maki cerita, penghasilan Oriflame udah segini. Nanti ke Depok lagi nengok cucu, cerita lagi penghasilan udah segini.

Waktu mau fokus ngerjain Oriflame aja dan kuenya istirahat, cerita juga. 

Waktu papa mau resign, kami juga minta ijin. Panjaaaaaang sekali waktunya. Gak akan resign sebelum 4 orangtua bilang iya. 

Jadi pulang kampung, jelasin ke bapak ibu, sampai bapak ibu semua mengijinkan, baru berani memutuskan. Karena beliau yang berjuang dari masa kecil dan punya doa khusus pasti apa harapan buat anak-anaknya. 

Kami gak mau menyakiti hati orangtua. Minta ijin walaupun berbulang-bulan lamanya, iya harus dijalanin. 

Duh kalau diitung. 

Berapa ratus kali bikin hati orang tua deg2an.Mulai dari kecil sampai sekarang. 

Berapa kali mungkin orangtua kewalahan dengan kenakalan-kenakalan kita waktu kita masih kecil, masih muda, masih nggak berpikir panjang. 

Kemaren di business conference itulah, memori tiba-tiba kebuka semua. 

Maki join Oriflame 3 tahun nyampe di Executive. 

Orang bilang, kok bisa, kok cepet, gimana ngerjainnya? Cepet yang manaaaa? 

Kalau punya ibu yang umurnya udah mau 60 tahun, mau kerja santai yang gimana lagi? Gimana Maki gak kerja keras biar semuanya cepet?

Aku nggak tau caranya leyeh-leyeh sebelum jadi Diamond dan Executive… 

Aku nggak tau caranya kerja nggak cepet... Karna punya ibu yang harus dibahagiakan di masa sehatnya… Aku nggak cepet! 

Gimana yang seharusnya? Bukankah memang harus begini?

Maki nggak tau caranya sedih lama-lama kalau ditinggal downline, ditinggal leader, itu bukan masalah… 

Jawabannya gampang, cari dan didik leader baru… Nggak tau kenapa harus sedih. Maki nggak tau caranya give up. 

Nggak mau tauuu… Karena punya misi bisa bawa ibu jalan-jalan ke Bangkok-Kamboja dan Singapore sejak tahun lalu

Ini aja yang penting! 

Apa-apa yang susah di bisnis ini Maki terima dengan senang hati sebagai ujian buat naik kelas. Harus ketemu caranya. Harus ketemu jalannya. 

Nggak ngerti caranya bersedih dan meratapi keadaaan karena ibu nggak pernah ajarin dan liatin yang kayak gitu. 

Buat downline-downlineku, Buat teman-teman yang juga jalanin Oriflame sebagai pilihan hidupnnya. Cepat lambat bukan tahun atau bulan ukurannya. Bukan pencapaian orang lain, bukan rangking2. 

Pilih garis finishmu temen2. Garis finishmu apa? Garis finish yang Maki tentuin tahun lalu adalah bisa ajak ibu dan mbak Ari ke Executive dan Diamond Conference. 

Jangan berhenti lari sebelum garis finish itu ada di depan mata kita. 

Conferece berlanjut. 

Maki dan papa dipanggil namanya ke atas panggung oleh pak Jesper karena berhasil naik 2 title sejak Diamond Conference tahun lalu, jadi Double Diamond Director dan Executive Director. 

yulia-riani-diamond-conference-2015.jpg

Teriak-teriak “buk buuuukkkk ituuuu di layar buuukkkkk!”  :))) 

Terus maju ke panggung sama papa terima bunga sambil kibarin bendera Indonesia. 

yulia-andri-recognisi.jpg
recognisi-yulia-diamond-conference-2015.jpg

Tiap conference naik panggung udah biasa, tapi kalau naik panggung disaksikan ibu, rasanya luar biasa…. :). Biasanya ibu cuma nonton videonya atau liat fotonya kalau kami pulang conference.  Sekarang bisa lihat langsung. 

Serius menyimak sesi selanjutnya. Tiba-tiba ada penghargaan, “Fastest Climber in Global Top 100”. Ini adalah leader-leader yang cepat sekali naiknya sehingga dari rangking ratus-ratusan, akhirnya bisa naik ke rangking puluhan di tingkat dunia. 

Nomor 3 leader dari China, bapak-bapak. Eh nomor 2 ternyata foto Maki ama Paki yang muncul di layar, aaaaaaaaaaaaakkkk!!! Teriak-teriak, “buuukkkkk! itu akuuuu buuukkkkkk!!!!” :))) 

Nggak tau ibu paham atau enggak ya itu penghargaan apa, hihihhiihi… Yang penting ibuk seneng…. 

Makasih atas semuanya yaa ibuku sayang…

senyum-ibu-yulia-riani.jpg

Buat Maki bekerja cepat itu bukan suatu keistimewaan, tapi kewajiban. Cepat selesaikan masalah, cepat bergerak, cepat action, cepat berbenah. Nggak boleh cepat putus asa. Orang sukses grafiknya nggak menanjak terus.Meskipun kelihatannya naik terus tapi kesulitan di belakangannya kita nggak pernah tau. Wajibkan diri kita bekerja cepat dan punya daya tahan luar biasa teman-teman… 

Terimakasih yaa downline-downlineku semuanya.... Ini hasil kerja team kita bareng-bareng... :) 
Terimakasih d.BCN, terimakasih upline-upline yang terus membina kami semua... :) 

Perjalanan masih panjang menuju Diamond, Executive dan President. Punyai passion yang menyala-nyala setiap hari.

Setiap hari. 
Setiap hari.
Setiap hari.

 

Tulisan Maki yang bahagia sekali... :) 

Singapore, 27 Januari 2014 

Marina Bay Sands Hotel

Yulia Riani - Executive Director

 

 
 

Share artikel ini