Katanya MLM itu ...

Kalau bisnisnya MLM itu, kadang gak lepas dari stigma negatif dari lingkungan sekitar ya. Padahal ya ini bisnis yang normal yang masuk akal.

Termasuk dulu Maki 3 tahun udah penasaran tapi gak mau join, karena pendapat negatif yang kadung melekat, karena “katanya”. 3 tahun hidup dengan pikiran negatif bahwa teman-teman yang join MLM itu nggak bener. Padahal yaaa nggak ngerti, nggak tau, dan nggak mempelajari.

Jangan join MLM, karena:

> Gak semua orang bisa kaya, banyak yang gagal di MLM. Yang atas itu mengorbankan yang bawah. Kalau udah di atas udah enak dapet uangnya maka lupa sama yang bawah-bawah. Katanya ada pasif income, tapi kok itu yang levelnya udah tinggi masih presentasi kesana kemari, harusnya kan enggak.

Ada pepatah yang bilang ya, kalau takut dikomentarin orang, maka jangan jadi apa-apa, diem aja, gak usah ngapa-ngapain. Karena selama hidup ya kita hidupnya sama manusia, maka pasti ada orang yang komentar, baik itu positif atau negatif. Mustahil berharap semua pemikiran orang sama dengan pemikiran kita....

Maki punya teman-teman yang gak join MLM sama Maki karena hidupnya sudah nyaman, tapi juga saling menghormati pilihan. Tapi ada juga yang melihat luarnya aja tapi merasa udah tau segala-galanya... :)))

Untuk bisa jadi kaya, untuk bisa punya hidup berkelimpahan, nggak harus join MLM. Ada banyak pilihan lain. Ada yang udah kaya dari keturunan keluarga, ada yang merintis usaha dari bawah dan lalu sukses bisnisnya besar, ada yang merintis karir di kantor dan sukses menduduki jabatan tinggi.

Kok tau? Tau, banyak kok temen Maki yang seperti itu.

Maki lihat banyak orang kaya yang bijaksana dan tetap rendah hati, apalagi kalau mereka merintis segala sesuatunya dari bawah. Mereka akan kaya nggak hanya secara materi tapi juga pemikiran.

Kalau kaya nggak usah dari MLM kenapa harus join MLM? Ya kembali ke pilihan masing-masing.

Kenapa Maki join dan jalanin Oriflame?

Karena kaya dari turunan enggak, mau merintis usaha dari bawah ya udah pernah tapi karna anak ada 3 jadi nggak bisa kepegang (ini pilihan personal ya), trus kalau mau punya karir yang cemerlang di kantor, kantornya siapa? :D Ibu-ibu anaknya 3, udah umur 30an, dan nggak ada keahlian ilmu yang bisa dipake di kantor. Selain itu juga nggak tahan macet jalanan jabodetabek.

Kenapa gak buka restoran? Wah ide baguussss! Next question… Duitnya siapa?? hehehe….

Ya udahlah pokoknya banyak lah pilihan untuk kaya, jadi pengacara, jadi dokter, jadi pilot juga bisa.

Tapi kan itu bukan bidangnya Maki disitu. Maki ibu rumah tangga aja.

Kalau ada peluang yang nawarin kesempatan yang murah, daftarnya 49.900 buat beli starterkitnya, 70ribu buat beli katalognya, sedia pulsa sedia internet buat belajar dan ngajarin team penjualan kita, aktivitas tiap bulan yang bisa dikerjain kapan aja dan dari mana aja, ya Maki ambil lah kesempatan.

Modal usaha gak harus besar dan bunyi juta-jutaan, modal usaha itu bisa berapa aja, dan BISA JADI BERAPA AJA asal ngerjainnya gimana.

Punya usaha modal kecil nggak usah gengsi, punya usaha modal besar nggak usah bangga.

Maki udah pernah dua-duanya. Dan bukan besarnya modal yang akan menjamin usaha itu berhasil atau enggak, tapi waktu, tenaga dan pemikiran yang kita curahkan.

Kemudiaan…

Ada pendapat, banyak yang gagal juga kok di MLM, jadi MLM itu bukan buat semua orang.

Hehehehe…

Kalau Maki suka banget nonton acara masak memasak di TV. Kalau di TLC atau AFC gitu kan duhhhh dapurnya kereeennnn bangetttt, pancuran airnya aja yang gak nyiprat airnya hahahha, trus wajannya aja bersihhhhhh, pisaunyaaaa warna warni tajem bangeeet, trus masaknya gak belepotan sama sekali, masakannya juga gak pake diungkep, dimasak lama, tau-tau jadi dan enak (keliatannya dari gaya makannya), hahaha….

Biasanya abis nonton trus main ke Ace Hardware trus jadi pengen beli-beli wajannya, pisaunya, pancinya, wkwkkww… Niat pengen masak, pengen bisa, semangattt! Beli lah itu alat-alatnya. Tapi trus jadi bisa masak kayak yang di tv? Bisa gak? Jawabannya adalah tergantung niatnya :)))

Kebanyakan Maki beli alat masak ya beliin embak aja :D Udah beli tapi semangat masaknya ngilang, cuma semangat makan yang tetep ada, hahaha…

Apa artinya? :)

Gini deh, misalnya niat diet. Diet karena motivasinya pengen pakai baju dari ukuran XXL ke S. Ada yang berhasil? Ya ada! Yang gimana? Yang mau jaga pola makan, mau olahraga dan minum Nutrishake (hehehe iklan tetep ya).

Yang gak berhasil diet ada? Ya ada! Yang gimana?

Yang cuma niat tapi actionnya yang sekonsisten orang-orang yang pertama tadi, mungkin pertama-tama actionnya bener tapi kemudian gak dilanjutin lagi, karena alasan apapun, alasan masing-masing orang kan beda-beda. Salah dimana? Apakah salah pola dietnya?

People give up in almost ANYTHING!

Nggak usah ngomongin MLM, banyak hal dan sangat wajar orang menyerah di hal-hal yang awalnya diniatin ditekunin tapi kemudian enggak. Merawat bonsai misalnya, harus setiap hari ditengok, dipotingin daun-daunnya, dahannya.

Nah sekarang coba liat, bonsainya Paki, wakakakkaa, udah ada 6 bulan gak diapa-apain karena gak ada waktu merawatnya padahal dulu dibelinya mahal-mahaaalll (sekalian curcol wkwkwkw, duhh Paki niiihhh….). Sedangkan temennya yang merawat bonsainya dengan baik ya bonsainya mungkin udah jadi dan cantik hasilnya.

Di bisnis ini, mau gagal atau berhasil itu pilihan. Sama seperti hal-hal lainnya. Dan di banyak hal lainnya, kalau mau berhasil mesti konsisten.

Punya upline iya punya, tapi bukan upline yang harus bertanggung jawab akan sukses atau tidaknya kita. Upline cuma menolong dengan ilmunya, dan harus kita sendiri yang punya kemauan menolong diri sendiri.

Ketika kita buka usaha warung kopi, lalu kita minta nasehat orang yang sudah punya bisnis warung kopi yang besar, nah apakah si orang yang udah punya usaha besar ini yang harus jadi penanggung jawab bisnis kita?

Bukankah mestinya kita yang belajar dan serap ilmu dan kemudian terapkan sendiri di bisnis yang kita punya? Betul? Betul lah….

Kita tidak akan sukses di bidang apapun kalau hanya MELEMPAR TANGGUNG JAWAB ke orang lain.

Belajar-praktek-belajar-praktek-belajar-praktek.

Nah terus, ada lagi yaa stigma negatif yang lain, misalnya memang tuh kalau udah kaya lupa sama bawahnya, lupa darimana uangnya, padahal uangnya dari keringat yang bawah-bawah….

Banyak yang bilang tapi kok gak ada yang nanya ke Maki langsung yaa, bener gak sih begitu… hehehe. Tanya dong, nanti Maki jelasin sejelas-jelasnya :)))

Dulu konsep “mencari uang” yang Maki tau ada 2:

  • Yang pertama, cari uang itu harus ngantor dan menerima gaji.
  • Yang kedua, cari uang itu harus buka usaha.

Udah pernah dua-duanya.

Konsep setelahnya yang Maki tau adalah, buatlah usaha, yang usaha itu PADA AKHIRNYA bisa berjalan tanpa kehadiran kita.

Misalnya? Misalnya buka perusahaan, lalu biarkan pegawai-pegawai bekerja buat kita, kita sebagai ownernya tinggal ngecek aja dan terima keuntungan perusahaan sambil liburan-liburan di villa kita di luar negeri, hehehe, misalnya.

Berapa lama dari mulai buka usaha sampai bisa kayak gitu? Yee ya jangan tanya Maki, kan Maki gak punya yang kayak gitu :)))

Dulu pernah tuh jadi perdebatan bahwa di bisnis MLM yang kaya atas-atasnya. Di saat itu Maki nulis bahwa, kalau di bisnis MLM udah sampai atas bisa kaya ya WAJAR, ya ngapain join Oriflame kalau nggak ada kesempatan buat bikin kehidupan ekonomi meningkat? Memangnya kita mau kerja kantor yang gak jelas nanti berapa gajian akhir bulannya? Semua pekerjaan perlu kita tau peluang kompensasinya bukan?

Terus, ... Kalau bekerja di kantor, banyakan mana gaji Direktur atau staffnya?

Kalau papa suka cerita tentang dealer pulsa (karna dulu papa kerja di perusahaan telekomunikasi), lebih banyak mana penghasilan dari dealer yang atas dengan toko-toko pengecer di bawah?

Kenapa bisa begitu?

Apakah itu ketidakadilan hidup? :)))

Ya itu wajar banget, orang yang tanggung jawabnya lebih besar, akan memperoleh hasil lebih besar.

Yang dilihat ketika udah sampai atasnya aja sih. Ini nih. Lihat lah gimana semua diawali. Gimana prosesnya sampai orang bisa ada di titik sekarang kehidupannya. Apa yang harus dilewati. Lihat lebih luas, biar kita lebih bijak menanggapi sesuatu.

Bonus pertama Maki di Oriflame Rp. 128.000 kok, nih, kecil kan… Ya iya baru sebulan. Gak kecil kalo menurut Maki, gimana bisa bilang kecil, sekuat tenaga itu ngerjainnya, hahaha, belajar sistemnya sampe bisa jelasin ke 4 orang, 4 orang tuh banyaaakkkkkk, kemudian mereka mau gabung trus kita tupo, naik level deh! :)))

Di awal-awal gabung tuh bisa rekrut 1 aja wowwwwww huaaaaaa seneeeenggg! Trus ngajarin satu satu. Nah tuh yang nurut udah pada jadi Director, Gold, SGD, Sapphire…

Apakah Maki korban dari yang atas-atas yang waktu itu upline Maki udah dapet 20 juta dan Maki 128ribu?

Ya tergantung yang melihaaaat….

Kalo ngeliatnya positif dan bener, berpikirnya adalah “Uplineku udah ngerti gimana jalanin bisnis ini dan aku akan belajar sama dia”. Banyak orang udah join tapi salah menempatkan diri, ditempatkan dirinya sebagai “korban”, bukan menempatkan diri sebagai seorang calon pemilik bisnis yang besar.

Di awal-awal hasil bisnis ini kecil, ya iya kan team penjualannya juga masih belum banyak. Sama kan seperti kita jualan, di awal-awal pelanggan kita juga gak banyak. Gimana supaya jadi banyak? Perbanyak jam terbang, lakuin terus, dan perbaiki yang belum bagus.

Nah teruss lagiii…. “Katanya ada pasif income tapi kok leader yang udah tinggi juga masih kerja? Harusnya kan enggak!”

Hehehe….

Ada ajaa… :D Kerja salah, gak kerja juga salah, trus maunya gimana :)))

Januari lalu, dari 1 bulan, Maki kerjanya cuma 2 minggu, itupun yang seminggu sakit, jadi gak maksimal, yang 2 minggu lagi maki kemana? Liburan di ajak Orilfame. Sinyal susah (gak juga sih, hehehe), cuma susah megang hape karna ngapain liat hape, pemandangan di luar indah banget, hehehehe.... :)))

Maki liburan 2 minggu, penghasilannya turun? Enggak alhamdulillah, hehehe, karena rekan-rekan bisnisnya Maki udah pada mandiri dan tau cara menjalankan bisnis ini meskipun Maki nggak ada.

Gimana mereka bisa mandiri? Karena Maki udah ngajarin, udah membina dan menanamkan nilai-nilai. Ada sistem yang berjalan.

Gak biasa melihat yang seperti itu bukan berarti gak ada yang seperti itu :) .

Bisnis ini seperti kita membangun “perusahaan”.

Itulah pekerjaan Maki di Oriflame via d’BC Network .

*Terus kok masih presentasi kesana kemari? *

Hah? Kenapa memangnya? Maki bersalah? Salah dimana? Ada aturan dimana bahwa kalau udah tinggi levelnya harus duduk-duduk di kursi goyang di rumah kah? Maki dan suami kerja karena memang MAU dan SUKA dan CINTA. Bukan kerja karena terpaksa, karena kewajiban. Tapi kerja adalah bagian dari hidup sehari-hari. Hidup harus dinamis dan produktif.

Kemaren Maki ke Surabaya, Maki lihat downline, udah tinggi levelnya di Oriflame, tapi buka usaha kue di rumah, dan suaminya pun bekerja di kantor. Weekendnya seperti apa? Weekendnya mereka isi dengan hal-hal produktif. Anak-anaknya sehat. Perhatian maksimal dari ibu dan ayahnya. Suka deh lihat keluarga yang kayak gini. Ayah ibunya pasti punya pemikiran yang bagus di berbagai hal dan wawasannya luas. Nanti pasti akan menurun tuh ke anak-anaknya… :)

Bagi orang-orang yang produktif, uang atau jabatan bukanlah batas. Berkarya terbaik di bidangnya, sampai usia berapapun dia. Soal istirahat dan menikmati hidup itu hal pribadi dan pilihan masing-masing.

Jadi yaaa untuk downline-downlineku semuanya, yang udah memilih berkarir di bisnis Oriflame ini, kadang-kadang Maki senyum-senyum tapi kadang juga galak (kayak pagi ini di grup Manager, wkwkwkw), Yuk kita jadi orang-orang yang selalu fokus sama solusi. Yuk kita jadi orang-orang yang fokus sama garis finish kita. Yuk jadi orang-orang yang memandang ke depan dan selalu positif.

Kemaren di OOM Surabaya ada Uti (ibunya Maki), testimoni soal gimana perasaannya jalan-jalan keluar negeri selama 2 minggu. Katanya keren banget kasurnya empuk dan kamar mandinya keren sampe bingung gimana mandinya, hahaha….

Waktu Maki ngejar 4 tiket, ngejar Executive, apa dipikir gak ada yang ngetawain? Banyak :)

Tapi kalo sedih atau merana hanya karena orang ketawa sama impian kita, gak akan bikin impian kita tercapai lebih cepat. Pilih aja mau bener-bener merasakan hasilnya atau sedih sama yang meragukan kita. Kerja kerja dan kerja. Fokus ke garis finishnya.

Sampai impian itu nyata dan yang ketawa hilang dengan sendirinya…. Jangan terus-terusan mikirin susahnyaaaaa aja, tapi syukuri semua pencapaian kita, ilmu dan pengalaman berharga yang kita udah dapat :)

Selamat berjuang yaaa temen-temen! Keep climbing and see you at the TOP!

SEMANGAT!

Yulia Riani

 

 
 

Share artikel ini