Ingin Pensiun Seperti Apa?

Kemaren disesi training "Ini Cara Gue" by Coach Dedy Dahlan digambarkan grafik seperti gambar dibawah ini. Gambar ini bercerita tentang grafik umum penghasilan dari profesi yang "akademis", "profesional", dan "bisnis". Garis merah merupakan saat pensiun. Pensiun karena usia atau memutuskan untuk "pensiun dini".

Apa itu profesi yang akademis? Sesuai namanya, profesi ini profesi yang klasifikasinya mengikuti jenjang pendidikan yang kita punyai. Contoh: pns, dokter, pegawai bank, karyawan kontrak, buruh pabrik, dsb. Ketika membaca informasi lowongan pekerjaan disitu disertakan jenjang pendidikan minimal. Kalau anda lulusan SMA  lowongan apa yang biasanya ada?

Grafik penghasilan di profesi akademis ini lempeng naiknya. Gaji sudah terjamin, gaji tetap,  ada bonus dan tambahan tunjangan-tunjangan lain. Naiknya pelan seiring waktu dan pengalaman kerja. Saya dulu bekerja di perusahaan telekomunikasi, selama 13 tahun. Betah ya? Hehehe, gajinya bikin betah euy :D. Tapi bagaimana nanti ketika pensiun? Masihkah mendapat uang pensiun bulanan sebesar gaji ketika masih aktif bekerja? Digambarkan dalam grafik, ketika pensiun penghasilan akan turun, turunnya lebih cepat daripada naiknya, hehehe. Gak percaya? Coba tanya para pensiunan karyawan atau pns.

Bagaimana dengan  profesional? Profesi profesional bahasa kerennya self employee. Yang termasuk disini seperti dokter/bidan yang buka praktek sendiri, freelancer, motivator spt Pak Mario Teguh atau Coach Dedy Dahlan, artis dan sutradara film, dan profesi dibidang lainnya. Grafik penghasilan mereka naik cepat, tapi tidak tetap. Kadang turun jika pas sepi order atau emang sedang ingin males-malesan terima job. Ketika diusia pensiun mereka-mereka diprofesi ini masih bisa perpenghasilan karena mereka dibayar sebagai konsultan. Banyak pekerja dari profesi akademis yang ketika pensiun beralih ke profesional sebagai konsultan, dan mereka bisa mempertahankan penghasilan tidak sampai jatuh.

Bisnis udah jelas lha ya. Udah banyak contohnya pengusaha-pengusaha besar. Itulah mereka yang bergelut dengan peluang dan resiko setiap harinya. Makin besar peluang, makin besar pula resikonya. Penghasilan dari bisnis juga tak menentu, kalau sedang rugi ya bisa sampai jatuh kedasar. Tapi begitu melesat ya naiknya tak terkira. Kalau profesi akademis gemar menabung profesi bisnis gemar berhutang. Makin besar hutan berarti aset mereka makin besar :D.

Pelaku bisnis Oriflame ada dimana?

Memulai bisnis Oriflame ibaratnya memulai profesi sebagai seorang profesional, sebagai konsultan  produk kecantikan dan perawatan diri. Mulai ikut training-training pengembangan diri dan belajar membuat sistem yang mudah diduplikasi untuk mengembangkan jaringan. Jaringan berkembang, bisnis berkembang, penghasilan pun naik. Pelaku bisnis Oriflame bisa masuk ke ranah profesional atau bisnis. Masuk ke ranah bisnis ketika kita bisa membuat sistem yang mudah diduplikasi jaringan kita.

Kenapa harus mudah diduplikasi?

Saya kasih contoh bisnis makicakes. Saya membuat sistem kerja mulai dari cara order online, saya ajari asisten untuk membuat pernik-pernik dekorasi. Tapi yang mendesain, finishing cake tetap saya sendiri. Ini bukan sistem yang bagus karena begitu saya sakit atau berhalangan bisnis terhenti. Asisten saya tidak bisa menduplikasi keahlian dekor kue saya. Iya dia bisa mencatat order, menimbang bahan, memanggang kue, tapi ketika desain dia tidak bisa. Tantangan tersendiri untuk membentuk team dekor kue yang bisa seperti saya. Apalagi ketika sudah diajari, sudah mulai ahli, asisten memutuskan untuk resign. Mulai dari 0 lagi :D

Di bisnis Oriflame saya juga membuat sistem. Ada tools untuk rekrut, materi training selain yang sudah disediakan oleh Oriflame. Downline saya ajari pemakaian tools tersebut dan saya ajari untuk mengembangkan tools sendiri yang lebih cocok dengan kondisi jaringan dia. Dengan seperti itu downline akan mandiri. Alur kerja yang sistematis seperti ini ketika sudah dan mudah terduplikasi akan sangat bermanfaat dalam mengembangkan bisnis Oriflame. Jaringan bisnis bisa tumbuh mandiri, dan disini yang namanya kebebasan waktu mulai tampak jalannya. Ketika saya tidak hadir tapi bisnis tetap berjalan. Ketika saya memutuskan untuk "pensiun" sistem yang saya buat harus sudah berjalan baik dan terus terduplikasi sehingga downline di jaringan saya semakin banyak dan mandiri. Kalau dulu bekerja keras membentuk sistem, sekarang giliran sistem yang berkerja buat saya.

Pertanyaan berikutnya, "kapan mau pensiun?"Rasa-rasanya kalau kita sudah menemukan profesi yang "gue banget" tidak akan ada namanya masa pensiun :)


Share artikel ini