CINTA INDONESIA CINTA PRODUK DALAM NEGERI

Analisa saya sbg ibu rumah tangga yang mungkin wawasannya tidak seluas teman-teman, jadi kalau ada salah kata atau penyampaiannya kurang bagus, mohon maaf yaa  :) 

-------------

Pekerjaan saya saat ini adalah konsultan Oriflame.
Oriflame itu produk dari Swedia, dengan 5 pabrik yang tersebar di seluruh dunia, sehingga kemudian disebut "produk impor" :)
Terus, ada yang bilang "kenapa pekerjaan kamu memasarkan produk dari negara lain, bukannya produk dalam negeri?", beberapa teman yang saya ajak bergabung pun ada yang menolak dengan bilang "aku nggak suka produk impor, aku lebih cinta produk Indonesia..."

Kalau saya yang dijawab seperti itu ya saya senyum aja, tapi mungkin teman-teman yang baru memulai bisnis Oriflame kemudian dijawab spt itu jadi bingung gimana menjawabnya ya?

Kalo saya sih, alhamdulillah gak suka mikir ribet, jadi semua hal berusaha saya cerna sesederhana mungkin. Gak bisa juga mikir ribet2, hehehe, nggak ngerti hukum ekonomi dll....

Begini.

Saya bekerja sebagai konsultan Oriflame, member Oriflame.
Saya mandi dan pake make up nya Oriflame (ada juga teman2 saya dengan posisi tinggi, tapi karena nggak dandan ya nggak pake make up hehehehe, ya gapapa, biasanya mereka fokusnya di produk Skin Care atau toilettries atau Nutrishake, gak masalah karena ada 700 lebih varian produk). 
Odol dan sabun saya di kamar mandi saya merk nya Orilfame.
Meja make up di kamar saya isi make up nya juga Oriflame. 
Produk impor dari Swedia. 

Apakah saya tidak cinta produk dalam negeri? 

Saya menerima penghasilan tiap bulan dari Oriflame.
Dari penghasilan tersebut buat belanja sehari-hari saya juga beli TEMPE, TAHU BANDUNG, IKAN yang ditangkap oleh nelayan Indonesia, beras CIANJUR, ONCOM, peyek, cilok (wakakaka gak ketinggalan), dll.
Saya belanja di pasar Agung Depok untuk kebutuhan lauk pauk, hehehe...
Seringnya sih di mpok Lana, pengusaha penyedia sayur di depan gerbang komplek.... :D
Bayar parkirnya kalo ke pasar, masuk ke uang kas pemerintah Depok, hehehe...

Buat sekolah anak, anaknya sekolah diajarin oleh guru-guru berwarganegara Indonesia... :) (Kalo ada sekolah yang gurunya orang asing juga gak salah ya, kebetulan kalo di SD Semut Semut bapak ibu gurunya made in Indonesia semua :) ) 
Pak Satpam di sekolah Kintan juga orang Indonesia.
Kintan bawa bekal makanan juga makanan dari rumah yang belanja dari pasar tadi.

Tiap bulan ada potongan pajak. Potongan pajak dari penghasilan saya kira2 3 jutaan per bulan, itu juga masuk ke negara. Sama negara dipakai apa nggak tau, hehehe, yang penting kewajiban saya taat bayar pajak.

Buat saya (buat saya ya maaf kalau beda pendapat, beda ya gapapa, saling menghargai saja), cinta Indonesia tidak harus 100% menggunakan produk Indonesia, tidak hanya dipatok ITU SAJA tolak ukurnya, ya harus melihatnya lebih luas.

Kalaulah harus seperti itu, susah sekali pelaksanaannya, mohon maaf coba lihat yang sedang kita pegang sekarang, yaitu GADGET. 
Siapa yang bikin? Negara mana? Orang mana?
Mobil yang kita kendarai, buatan mana?
Kerja di kantor, siapa pemilik sahamnya?
Internet? Siapa yang menciptakan?

Tapi ketika gadget, mobil, keberadaan kita di kantor, internet, bisa menghasilkan sesuatu yang bisa memperkuat ekonomi keluarga, akhirnya kuat ekonomi dari rumah, mengurangi pengangguran, mengurangi beban negara, itu juga BUAT SAYA namanya CINTA INDONESIA. 

Anak-anak bisa sekolah di sekolah yang baik, ibu-ibu rumah tangga bisa berdaya dari rumah menghasilkan, suami bekerja dengan tenang, sempat punya waktu buat keluarga, itu juga cinta Indonesia, keluarga harmonis dari rumah. Kalo kata Dik Doank, bisa menyekolahkan anak sendiri itu biasa, tapi berusahalah untuk bisa menyekolahkan anak ORANG LAIN juga.

Kalau kita terlalu berpikir sempit ya malah nggak akan kemana-mana, ini tidak boleh itu tidak boleh, hanya karena tidak bisa melihat lebih luas.

Ih kejauhan banget ya saya mikirnya, wkwkwkw....
Tapi ya kadang-kadang lihatlah dari sudut pandang yang berbeda. 

Membeli produk tertentu karna produksi dalam negeri, beliiii pokoknya beli, karena itu produk dalam negeri jadi kita mesti suka banget, tanpa bisa menghasilkan, juga jadinya konsumtif saja. 

Berapa kontribusi kita kalau hanya bisa sebagai pembeli? 

Kalo buat saya ya lebih baik menghasilkan, lebih baik menjemput peluang, walaupun itu produk impor, kemudian gunakan hasilnya, penghasilan tiap bulan itu, untuk mencintai produk Indonesia yang lainnya. Toh juga memasarkan produk impor tidak semua produk yang saya pakai produk Oriflame karna kebutuhan hidup ya gak hanya sabun, shampo atau make up aja. 
Masih banyak kebutuhan lain yang bisa kita pilih untuk kita cukupi dari produk dalam negeri sendiri.

Ikan asin, enak.
Sambel terasi, enak. 
Jajan cilok, suka.
Makan padang, ayoookkkkk...
Hehehe....
Udah nggak usah dibuat susah ya.
Saya sendiri malah berterimakasih, ada orang luar negeri, yang menciptakan peluang seperti ini. Ada foundernya d'BCN yang mempermudah saya bekerja kapan saja dan dari mana saja. Gak hanya dilihat dari ASAL PRODUKnya saja, tapi bermanfaat buat diri sendiri, buat orang lain, menciptakan lapangan kerja, ya ayo aja....

Semuanya saling terkait, tinggal kita pintar-pintar saja memilih.

Sekian, terima kasih :) 

Oriflame Gold Conference 2013, Dubai


---


Yulia Riani/Andri Wibowo
FB Page : makidanpaki
BBM : 7571F860
LINE ID : dryae


Share artikel ini