Hanya "Pelaku MLM" Atau "Business Owner"?

July 13, 2013 at 11:54pm
"Mbak, pelaku MLM itu, bukan business owner loh! Pelaku tuh ya pelaku aja! SALES! Yang kaya ya yang punya perusahaan MLM itu, bukan kamu! Mau-maunyaaa...."

Demikian komentar salah satu pengamat bisnis yang saya tekuni 1.5 tahun ini, bisnis Oriflame via d'BC Network.
Saya sih tenang saja :)
Dasteran dengan income per bulan kira-kira bisa buat beli motor 2 biji, ditransfer ke rekening emak2 kayak saya ini, masih bisa cium2 gendong2 anak bayi saya, bisa nemenin bobok siangnya, bisa nyuapin makannya, buah saya menjadi SALES itu spt beliau bilang :D
Ga masalah dibilang sales, saya bangga kok jadi sales, saya juga sambil jualan kue alias sales kue, wkwkwkw :)
Emang kenapa? :D Sales juga profesi halal dan tidak melanggar hukum.

Sebagian besar team saya ibu2 rumah tangga loh pak, lumayan kaan dari rumah, dapet sejuta dua juta, 5 juta, 9 juta, dst sesuai dengan kerjanya. Musim harga2 naik begini, bisa berkontribusi bantu2 keuangan keluarga. Iyaa kaaan? Ga bisa jadi anggota DPR untuk protes BBM naik, inilah yang bisa kami lakukan dari rumah :)

Tapi boleh lah ya kita berbagi, apa yang membuat saya melirik bisnis ini dan kemudian fokus dan serius mengerjakannya.

Kalau dibilang ngenakin upline aja, sudah saya buktiin, gak masalah kapan bergabungnya, kalau mau kebut, bisa banget cepet berhasilnya, gak tergantung apa level uplinenya, kita bisa memiliki level yang lebih tinggi.

Kalau dibilang hanya menguntungkan yang punya perusahaan MLM dan kita hanya sales, bukan business owner? 

Menurut sudut pandang saya yang orang dasteran alias ibu rumah tangga biasa (saya belum pinter analisa dengan hukum ekonomi atau perbisnisan yang lebih rumit hehehe), ketika saya akan menekuni sesuatu pasti saya punya tujuan:

- Segi waktunya bagaimana? Saya punya anak2 kecil di rumah, saya ga punya embak yang menginap.
- Segi pertumbuhan hasilnya bagaimana?
- Adakah orang yang sudah nyata-nyata berhasil di bidang itu?

Kalau sudah 3 hal itu saya sreg, ya saya BUDHAL, alias berangkat, jalan!
Pinter ngomong, pinter presentasi, pinter dandan (karna perusahaannya produksi kosmetik dan body care) itu bisa dipelajarin sambil jalan. Cara tupo, merekrut dan membina gimana? Iya sambil jalan bisa dipelajari, dont worry.

Saya juga bakul kue, home industry kue dari rumah, jadi ya tau, bagaimana memproduksi produk dari 0 sampai produk jadi, sehingga bisa sampai ke konsumen. Saya mengalami dua2nya, antara memproduksi sendiri dan tidak :)

Nah sepertinya, masih ada saja yang menganggap bahwa "kalau kamu tidak memproduksi sendiri barang yang kamu jual, kamu BUKAN BUSINESS OWNER", seperti statement di awal tadi.

Padahal nihh, kalo lagi belanja bulanan ke Giant, siapa bo yang bikin itu barang belanjaaan berjejer2 rapih di rak2 yang tersedia? Pemilik Giant kaah? BUKAN.
Ke pasar dehhh, mau beli ikan. Itu ikaaan yang nangkep yang jualan kaahh? BUKAN.
Beli bawaaang, "bang bang, abang nanem sendiri ini bawang?", "Engga neng", kalo gitu abang bukan business owner bang! Abang tuh cuma SALES bawang tau ga bang!" wkwkwkwkw diusirrrr ama abangnya :D 

Ya kalo segala-gala yang kita jual mesti kita yang memproduksi, ya capek :) Kalo di pelajaran Ekonomi dulu, di antara produsen dan konsumen itu ada distributor.

Lihat deh jaman sekarang, ibu-ibu kreatif (apalagi ibu2 d'BCN, bisa membangun jaringan lewat BBnya aja, hihihii), yang mereka dengan gadgetnya aja, modal BB dan FB, bisa jualan baju, jualan makanan, jualan popok, jualan mainan anak! itu SALES! itu REJEKI!

Namanya business owner bukan sih? Saya yakin ibu2 ini jualan ya jualan aja, nggak pusing dengan istilah business owner atau bukan, hehehe... Sebaik2 bisnis adalah yang dimulai, bukan dianalisa melulu, sampe gak jalan2....

Kalo di bisnisnya Maki bagaimana?
Saya business owner dari JARINGAN yang saya kembangkan.
Dari jaringan yang saya BINA, sampai mereka mandiri dan mengerti jalannya bisnis ini bagaimana.
Demikian juga dengan leader-leader saya. Mereka adalah owner dari jaringan yang mereka bentuk, yang mereka tabur, pupuk, rawat, sehingga akhirnya bisa menuai hasilnya. Dari menabur sampai menuai, itu ada kerjanya.

Ibarat saya punya 1 gerobak jual gorengan, kalau 1 gerobak omsetnya 500ribu, maka supaya punya omset 500juta, saya harus punya seribu gerobak. Di bisnis jaringan,  itu mungkin, penghasilannya adalah percepatan.

Pemilik perusahaan Oriflame kaya? Lha ya HARUSSS itu!! wkwkwkw... Biar fasilitasnya makin lengkap dan memudahkan para konsultannya.

Ya kalo bertambah kaya Alhamdulillah, terimakasih Oriflame, terimakasih d'BCN, sudah membuat peluang seperti ini, buat ibu2 dengan mobilitas terbatas kayak saya, orang rumahan kayak saya, bisa punya penghasilan spt eksekutif-eksekutif yang di kantor2 itu, dari rumah saja. Suksesnya rame-rame. Bisa membantu orang lain berpenghasilan juga, tanpa saya pusing:
- Memikirkan inovasi produk
- Memikirkan sistem bagi hasil
- Memikirkan packaging
- Memikirkan delivery
- Memikirkan bikin flyer yang bagus
- Memikirkan transfer penghasilan ke leader2 saya
- Memikirkan membuat training untuk rekan-rekan kerja saya., dll
Karena semua sudah ADA TERSEDIA, tinggal kita manfaatkan dan maksimalkan penggunaaanya. Hemat waktu, hemat energi, bisa alokasi waktu yang lain untuk keluarga :)

Saya doakan bapak Jonas af Jochnick dan Robert af Jochnick  pendiri perusahaan Oriflame, sehat-sehat selalu, semoga bulan depan ketika di Dubai bisa bertemu dengan beliau :)

Dibilang bukan business owner atau bukan, yah itu sih cuma istilah aja, punya penghasilan segini per bulan, udah lumayan, udah banyak bikin perubahan di hidup saya ke arah yang lebih baik. Bukan hanya title business owner atau bukan yang jadi concern ketika kita berbisnis, bukan hanya uangnya, tapi juga ilmunya, networkingnya, nambah kenalan, nambah persaudaraan, bisa aktualisasi diri, bisa melakukan hal-hal yang dulu tidak bisa menjadi bisa.

Dibilang sales atau bukan, dengan karir saya di Oriflame ini, bisa bawa suami pergi keluar negeri, alhamdulillah banget, tahun depan insyaAllah giliran anak dan ibu saya yang akan saya ajak :) . Saya suka kok travelling keliling Indonesia. Tapi kalau dapet gratis travelling keluar negeri dengan tinggal siapin passpor aja,  yah mau banget. Itu ada di bisnis saya ini.

Coba berfikir lebih panjang kalaulah disini dibilang bukan business owner...
Cari pendapatan sebanyak-banyaknya dari bisnis ini. Disini mau penghasilan berapapun ngga dilarang kok :) Lalu OLAH penghasilan tsb menjadi BISNIS LAIN, mau jadi juragan kontrakan kaah (aiihh cita2 saya banget, aamiin), mau beli kebon berhektar-hektar ditanemin duren kaah, mau bisnis jual beli kasur kah, MONGGO, the choice is yours.

Banyak leader-leader yang sudah sukses, punya kos2an, punya kontrakan, punya bisnis catering, punya bisnis kue, punya kolam lele dan gurame (yang terakhir ini cita2 Paki, wkwkwkw).

Bisa diolah jadi apa saja. Bisnis ini adalah income generatornya... :) Dan Income generator ini BISA DIWARISKAN ke ANAK CUCU kita nantinya.

Intinya, dari bisnis MLM bisakah jadi BUSINESS OWNER?
Bisa banget, bapak.... :)


Semoga bermanfaat :)


---

Yulia Riani/Andri Wibowo
email : makidanpaki@gmail.com
FB Page : makidanpaki
BBM : 7571F860
LINE ID : dryae

Share artikel ini